PDF

Reportase Pameran Wayang Superstar:The Theatre World of Ki Enthus Susmono

enthusSetelah TROPEN Museum- Amsterdam mangakuisisi 37 wayang karya Ki Enthus Susmono, maka 37 wayang tersebut akan menjadi bagian dari koleksi berharga Tropen Musuem. Beberapa buah Wayang Rai Wong, Wayang Planet, Wayang Wali, Wayang Goerge Bush, Wayang Saddam Husein, Wayang Osama, Wayang Golek Ki Enthus serta beberapa koleksi pribadi Ki Enthus akan mulai dikenalkan kepada public eropa dalam sebuah pameran yang bertajuk: Wayang Superstar, the theatrical world of Ki Enthus Susmono . Pameran yang semula didesign berlangsung dari tanggal 29 Januari 2009 sampai dengan 28 Juni 2009 karena antusiame publik di Belanda begitu tinggi, maka pihak tropen akan memperpanjang masa pameran hingga tanggal 2 Agustus 2009 .

Amsterdam , Suhu dingin yang mencapai 0° C tidak menghalangi antusiasme public di Amsterdam untuk menghadiri undangan pembukaan pameran “Wayang Superstar: The Theatre World of Ki Enthus Susmono”. Bertempat di sebuah restaurant di dalam komplek Tropen Museum , kamis jam 4 sore prosesi pembukaan pameran dimulai. Di hadapan sekitar 200 tamu undangan yang terdiri dari para curator, kolektor, jajaran direksi lembaga tropen dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda: Bapak Junus Habibie ( Kakak kandung daru BJ. Habibie),   Direktur Tropen Museum :Lejo Schenk memberikan sambutan singkatnya. Tropen Museum merasa sangat bangga dan tersanjung dapat mengkoleksi 37 wayang kreasi Ki Enthus Susmono. Perasaan tersebut menjadi sangat bertambah luar biasa, “Kami sangat bahagia karena Ki Enthus dan manajernya Honggo Utomo dapat hadir langsung dalam pembukaan pameran ini”. Kata Lejo Schenk mengakhiri pidato singkatnya.

Adalah Wiliam Pim Westerkamp, yang memiliki peran penting dalam pameran ini. Selama hamper 1,5 tahun dia mempersiapkan pameran, termasuk beberapa kali mondar-mandir Amsterdam-Tegal untuk memilih wayang yang akan dikoleksi dan dipamerkan, serta membuat riset tentang Ki Enthus Susmono. Dalam pidatonya yang cukup panjang, Pim Westerkamp menceritakan dengan detail perjalanan demi perjalanan penyelenggaraan pameran wayang, dari mulai pertemuan singkatnya dengan Ki Enthus di Jakarta dalam sebuah pameran wayang, hingga terakhir ketika dia berdiri untuk membacakan sambutannya. Kata Pim Westerkam: “Dunia baru tentang dunia wayang sebentar lagi akan kita lihat, dunia yang merepresentasi sebuah budaya yang masih hidup dan dinamis, sebuah persembahan yang diharapkan mampu menginjeksi paradigma baru tentang wayang dan kami bangga mempersembahkan kepada public belanda karya-karya mutakhir dari seorang dalang “edan, mbeling,dan nakal” , kata Pim Westerkamp mengakhiri pidatonya sambil mempersilahkan Ki Enthus  untuk naik ke atas podium.

Musiiiiik!
Seru Ki Enthus sambil maju ke arah podium. Ki dalang “edan” Enthus Susmono memang tampil lain. Kenakalannya sedikitpun tidak berkurang meski public yang dia hadapi  adalah public baru buatnya.  Dia menyampaikan pidato sambutanya layaknya sebuah pertunjukan pendek yang diringi oleh  musik rekaman khas Satria Laras. “ Selamat Sore Amsterdam !!!! kalimat pembuka ki enthus sambil memainkan wayang goleknya.  Suasana menjadi cair dan tamu undagan yang hadirpun kelihatan melongo kagum melihat Ki Enthus menarikan wayang goleknya. Tepuk tangan dan tawa memenuhi ruang restaurant ketika translater yang mendampingi Ki Enthus “digarap” habis-habisan oleh si wayang golek.  Disela gemuruh tawa tamu undangan, tiba-tiba ki enthus memainkan golek di tangannya layaknya seorang MC. “ Ladies dan gentlemen sekarang kita hadirkan superstar kita malam ini, satu orang dari berjuta orang di Indonesia yang mendapatkan kehormatan tinggi di negeri kincir angin ini, kita sambut Ki Enthus Susmono!!!!!! Tepuk tanganpun kembali bergemuruh, terlihat Ki Enthus turun dari podium menghampiri sebuah box yang ditutup dengan kertas khusus. Dengan membelakagi tamu undangan, Ki Enthus dengan pelan mengambil wayang golek karikatur dirinya sendiri. Tentunya suasana tersebut menjadi sedikit mendebarkan karena alunan musik yang semakin meninggi bit temponya. Dan ketika Ki Enthus berbalik bersama dengan golek ki enthus, sambutan gemuruh decak kagum audience terdengar sangat jelas. Di hadapan mereka sekarang  berdiri 2 sosok ‘kembar’,  termasuk kembar dalam berpakainnya. Ya, sore itu Ki Enthus memang mengenakan pakaian yang didesign khusus sangat mirip dengan kostum yang dikenakan boneka karikaturnya, yaitu seperangkat pakaian ala Warok Ponorogo. Wayang golek karikatur ki enthus  menari, berjingkrak begitu sangat hidup,  menebar pesona kepada tamu undangan. Sesekali sosok kambar tersebut terlihat saling berinteraksi dan terlihat sangat akrab.
Menutup pidatonya, Ki Enthus mengatakan perasaannya yang termat tersanjung dan bangga karena wayang-wayang karyanya telah dikoleksi oleh Tropen Musuem. Kebanggaan itupun berubah menjadi sebuah kebahagian ketika lembaga tropen memohon kepada ki enthuse agar pameran bisa diperpanjang sampai dengan bulan agustus karena antusiasme public belanda sangat besar dengan adanya pameran ini. “ Saya adalah manusia biasa, kalau toh orang menganggap saya adalah seorang superstar, itu adalah sebuah penghargaan bagi saya. “Superstar” bagi saya adalah sebuah totalitas dalam berkarya. Tapi yang jelas, saya tidak ingin manjadi seperti Bush, seorang superstar yang berakhir dengan sebuah lemparan sepatu, seloroh ki enthus diikuti tepuk tangan meriah.

Dan dengan dibukanya pameran ini maka saya persembahkan wayang dan dunia wayangku untuk dunia! Semoga wayang mampu hidup di habitatnya yang baru, berbaur dengan peradaban internasional, bergerak pasti dari paradigma dan image kemistisannya menuju pada sebuah nilai dan spirit kreativitas yang terus tumbuh dan disikapi keberadaannya. Biarkan wayang-wayang saya menyapa public luasnya” kata Ki Enthus menutup sambutannya.
Kemudian seluruh tamu undangan mengiringi duta besar RI, Ki Enthus dan jajaran direksi lambaga tropen menuju ruang pameran.  Duta besar RI untuk Kerajaan Belanda memberikan kesempatannya untuk menggunting pita disusul dengan prosesi menempatkan boneka golek ki enthus oleh ki enthus sendiri di tempat yang sudah disediakan. Tal Lupa Duta Besar RI untuk Belanda menuju pada display khusus yang memamerkan wayanng golek "Gus Dur".

Polling Anda

Bagaimana tampilan baru website Ki Enthus menurut penilaian Anda?